Pages

Senin, 18 Maret 2013

Festival Korea dan Permainan Tradisionalnya

ANNYEONGHASEYO! *bow*
Aku balik,nih bawa info menarik lagi seputar Korea....
Dulu aku pernah bahas tentang makanan khas Korea dan tempat hiburan yang menarik di Korea. Nah, sekarang aku bakal ngasih info seputar festival di Korea dan permainan tradisional Korea.


Check This Out =>

Festival Korea

1. Seollal



Tahun Baru Korea (Korea: Seollal (설날) atau Gujeong (舊正) adalah hari raya rakyat Korea yang terbesar dan terpenting. Seollal dirayakan secara meriah sehingga hari libur berlangsung selama 3 hari karena dianggap lebih penting daripada hari tahun baru kalender Gregorian. Walaupun tidak terlalu populer, istilah Seollal juga berarti Yang-nyeok Seollal (양력설날, tahun baru kalender Gregorian) atau Shinjeong (신정).


Seollal jatuh pada tanggal yang sama dengan Tahun Baru Imlek, kecuali ketika bulan baru muncul antara jam 15:00 UTC (tengah malam waktu Korea) dan 16:00 UTC (tengah malam waktu Cina). Dalam kasus ini (rata-rata terjadi 24 tahun sekali), bulan baru akan muncul "keesokan harinya" di Korea dibanding di Cina, dan Seollal akan dirayakan sehari setelah Imlek di Cina. Masakan dan minuman tahun baru Seollal dinamakan seol-eumsik dan seol-sul. Seol-eumsik adalah istilah untuk semua jenis makanan yang disajikan pada hari itu. Masakan yang harus ada adalah sup kue beras atau tteokguk. Minuman keras yang dingin disajikan pada hari pertama bermakna keluarga akan menyambut datangnya musim semi.

2. Daeboreum


Daeboreum atau Jeongwol Daeboreum adalah perayaan bulan purnama pertama setelah tahun baru kalender lunar. Sama halnya dengan Festival Lampion, perayaan ini jatuh pada hari ke-15 bulan pertama kalender Tionghoa. Dalam bahasa Korea, jeongwol berarti "bulan pertama", dae berarti "besar", sedangkan boreum berarti "bulan purnama".
Perayaan ini dimaksudkan untuk menghalau nasib buruk dan arwah jahat. Hidangan yang dimakan dalam perayaan Daeboreum dimaksudkan agar orang tetap beruntung dan sehat sepanjang tahun. Di Jeju, Daeboreum dirayakan besar-besaran dalam bentuk Festival Api Jeongwol Daeboreum. Makanan pagi di hari Daeboreum adalah ogokbap berupa nasi dari 5 jenis palawija (beras, millet, sorgum, kacang, dan kacang azuki). Ogokbap juga dibagi-bagikan kepada tetangga karena memakannya bersama tiga keluarga lain bisa membawa keberuntungan sepanjang tahun. Setelah makan pagi dengan ogokbap, orang melakukan tradisi bureom, yakni memecahkan kulit berbagai jenis kacang, seperti kacang kulit, kastanya, dan kacang pinus. Tradisi memakan kacang berkulit keras dimaksudkan untuk menghalau berbagai penyakit kulit (buseureum), membuat gigi kuat, dan sehat sepanjang tahun. Hantu dan arwah jahat kabarnya takut dengan suara keras kulit kacang yang pecah.

3. Dano


Dano adalah salah satu festival besar yang jatuh pada hari ke-5 bulan ke-5 kalender Imlek di Korea. Festival ini dinamakan juga suri/surin-nal ("hari ke-5"). Angka 5 menurut kepercayaan Korea merupakan angka yang bersifat positif, baik dan maskulin sehingga dipercaya bahwa pada tanggal 5 bulan ke-5, sifat-sifat tersebut terkumpul paling banyak. Selain itu, dipercaya pula bahwa pada hari tersebut, aktivitas angkasa mencapai puncaknya, sehingga disebut juga cheonjung-jeol ("festival di tengah-tengah surga"). Pada hari ini, udara di Korea semakin panas dan akan masuk pada musim panas. Hal yang dilakukan oleh warga Korea pada hari ini pertama-tama adalah bangun pagi-pagi dan mandi. Tradisi mandi pada hari Dano dinamakan changpo-tang dimana mereka mencuci rambut dan wajah dengan air rebusan daun jeringau. Hal ini dipercaya dapat mengusir arwah jahat dan kesialan. Setelah itu mereka akan berpakaian yang bagus (dano-bim) dan melaksanakan upacara penghormatan bagi arwah leluhur di altar rumah. Kemudian, seluruh keluarga menikmati makanan sesajen dan bersenang-senang sepanjang hari.

4. Chuseok


Chuseok atau ditulis sebagai Chusok (Hari bulan purnama) adalah hari libur resmi di Korea yang dirayakan secara besar-besaran pada bulan ke-8, hari ke-15 kalender lunar. Perayaan ini berupa pesta makan untuk mengucapkan terima kasih atas keberhasilan panen, sehingga juga disebut juga sebagai Hari Panen, Festival Bulan Musim Panen, atau Hangawi ("han" = "raya", "gawi" = "tengah", "hari besar di tengah-tengah musim gugur". Di zaman sekarang, perayaan Chuseok merupakan kesempatan orang Korea untuk pulang ke kampung halaman untuk mengunjungi altar leluhur. Di pagi hari, orang Korea melakukan penghormatan terhadap arwah leluhur dalam bentuk ziarah ke makam untuk merapikan tanaman dan tanah sekitar makam. Arwah leluhur juga disuguhi makanan, buah-buahan dan minuman. Hasil panen tahun itu juga ikut dipersembahkan kepada arwah leluhur.


Perayaan Chuseok juga merupakan kesempatan untuk berterima kasih kepada arwah leluhur. Makanan istimewa liburan Chuseok adalah kue Songpyeon (송편) dari tepung beras diisi kacang atau wijen. Malam sebelum Chuseok, semua anggota keluarga akan duduk bersama membuat songpyeon sambil melihat bulan.


Khususnya, bujangan dan perawan mencoba membuat songpyeon yang sebagus mungkin karena percaya dengan begitu mereka akan mendapatkan pasangan yang cantik atau tampan. Pada hari Chuseok, orang-orang akan saling berbagai makanan dan minuman keras, dan bermain permainan tradisional. Di samping songpyeon, berbagai hasil kebun dan pertanian yang baru dipanen memenuhi meja makan, antara lain wijen, kedelai, kacang merah, chestnut, dan kurma cina. Permainan dan kesenian tradisional diadakan beramai-ramai dan meriah, seperti sonori (permainan sapi), geobuknori (permainan kura-kura), ganggangsullae (tarian melingkar) dan ssireum (bergulat).

5. Darye


Darye adalah bentuk upacara teh tradisional yang dipraktikkan di Korea. Darye adalah etika minum teh atau tatacara minum teh yang telah diwariskan oleh nenek moyang bangsa Korea sejak ribuan tahun lalu.
Upacara teh Korea bermula dari upacara teh Tionghoa dari Tiongkok. Bagian terpenting dari tatacara teh ini adalah bahwa menikmati teh ala Korea dipraktikkan dalam suasana formal namun santai dan tenang.
Upacara teh korea selain dimaksudkan untuk menemukan ketenangan dan harmoni dalam cepat berubahnya masyarakat Korea, juga untuk meneruskan tradisi lama bangsa Korea.
Bagian utama dari tatacara teh korea adalah suasana yang ringan dan santai, dengan sedikit etika formal dan aturan baku, selingan pembicaraan ringan, lebih bebas dan tidak kaku dan kemudahan dalam menikmati berbagai jenis teh dan keramahtamahan tuan rumah.
Hal ini membuat desain rumah teh lebih bermacam-macam, juga penggunaan desain dan perangkat yang beragam, variasi pilihan teh, serta makanan ringan yang disajikan sesuai musim.
Umumnya air diambil dari sumber air terbaik dan pada zaman dahulu semua rumah teh terkenal memiliki sumber air murninya masing-masing. Air direbus dengan kayu api dan siap disajikan.
Upacara teh selalu diadakan untuk memperingati hari-hari penting seperti ulang tahun, hari-hari besar, reuni dengan teman lama juga dalam rangkaian meditasi.
Karena teh yang digunakan adalah teh hijau, maka teh berdaun kecil jarang digunakan.


Dalam preparasinya, upacara minum teh Korea dilakukan di atas meja rendah dengan masing-masing tuan rumah dan tamu duduk di sisinya saling berhadapan. Tuan rumah pertama-tama akan membersihkan perangkat poci dan cawan, menghangatkan perangkat tersebut dengan air panas, menuangkan daun teh ke poci, lalu menuangkan air panas ke daun teh dan menuangkannya lagi kepada tamu sambil berbincang-bincang ringan. Sebelum dituangkan ke cawan, teh yang panas dibiarkan mendingin. Hal ini bergantung pada daun teh yang digunakan. Teh yang dipetik pada awal musim semi di bulan April akan didinginkan sampai suhu yang lebih rendah (60° - 65° C) daripada daun teh yang dipetik pada bulan Juni (70° - 75° C). Tamu harus menunggu sampai tuan rumah menikmati teh mereka dahulu sebelum meminum tehnya. Acara minum teh ini dapat memakan waktu berjam-jam, namun sangat terbuka dan santai, dan biasanya antara tuan rumah dan tamu akan dapat saling mengetahui lebih baik tentang masing-masing lewat percakapan yang menyenangkan. Tuan rumah akan membersihkan perangkat lagi saat acara minum teh selesai dan membiarkan perangkat teh berada di meja sepanjang tahun dan menutupnya dengan kain.


Permainan Korea

1. Igo/Baduk



Igogoweiqi, atau baduk adalah permainan papan strategis antar dua pemain, berasal dari Tiongkok sekitar 2000 SM sampai 200 SM. Permainan ini sekarang populer di Asia Timur. Pengembangan sistem untuk bermain igo melalui Internet telah meningkatkan popularitasnya di belahan dunia lain.
Di Indonesia, nama igo dan go sama-sama digunakan. Go adalah nama Inggrisnya yang berasal dari pelafalan bahasa Jepang aksara 碁 (go), walaupun di Jepang permainan ini biasa disebut 囲碁 (igo). Namanya di bahasa Tionghoa yaitu 圍棋 (trad.)/围棋 (sed.) (pinyin: wéiqí) kurang lebihnya berarti "permainan papan mengelilingi (wilayah)". Nama kunonya adalah 弈 (pinyin: yì), dan juga terdaftar dalam Kamus Kangxi sebagai 碁. Permainan ini disebut 바둑 (baduk) di bahasa Korea.

2. Janggi


Janggi atau catur Korea merupakan permainan dari korea yang dimainkan oleh dua orang dan termasuk dalam permainan papan berstrategi sekelompok dengan catur, shogi dari Jepang, dan xiangqi dari Tiongkok.



Permainan ini menggunakan bidak-bidak, mirip dengan catur. Terdapat bidak raja, patih, gajah, kuda, benteng, dan prajurit. Bidak raja dalam catur Tiongkok hanya bisa dijalankan di empat kotak, konon sesuai dengan fungsi raja yang boleh keluar di lingkungan istana saja. Bidak gajah dijalankan di kotak empat miring. Bidak kuda, benteng, dan prajurit langkahnya hampir sama dengan catur biasa.

3. Neolttwigi



Neolttwigi adalah permainan jungkat-jungkit yang berasal dari Korea. Jungkat-jungkit adalah permainan sekaligus olahraga untuk wanita yang biasa dilakukan pada hari-hari libur tradisional seperti SeollalDano dan Chuseok. Papan jungkat-jungkit dibuat dari kayu tebal yang panjangnya 2 m dan lebar kurang lebih 70 cm. Alas jerami ditaruh di bawah papan bagian tengah. Pemain berdiri di ujung papan dan bergiliran melompat untuk memberikan tenaga lontaran. Papan tersebut tidak stabil sehingga harus dijaga supaya tidak bergeser dari alas. Permainan ini telah dimainkan sejak zaman kuno sebagai olahraga militer dan masih ada sampai sekarang.
Pada masa itu, (sebelum periode Dinasti Joseon) wanita lebih bebas dan sangat aktif. Mereka menunggang kuda dan bermain polo bersama para pria. Permainan ini dimanfaatkan sebagai latih untuk persiapan perang. Di awal periode Joseon, duta besar Ryukyu sering berkunjung ke Korea dan mengadopsi neolttwigi di negeri mereka.

4. Ssireum



Ssireum adalah jenis olahraga gulat tradisional dari KoreaSsireum merupakan olahraga tertua di Korea yang sudah dipraktikkan sejak zaman prasejarah. Pada masa lalu, masyarakat Korea melindungi diri daripada ancaman musuh dengan mengembangkan ilmu beladiri. Ssireum bermula dari gerakan-gerakan mencengkeram dengan tangan dan lama kelamaan gerakan baru mulai diciptakan. Pada zaman Tiga Kerajaan, ssireum dimainkan untuk kompetisi dan tujuan militer. Lukisan ssireum tergambar pada Situs Makam Goguryeo (37 SM-660 M) yang dinamakan Gakjeochong (角抵塚). Bukti tertulis paling awal menyebutkan informasi tentang ssireum adalah teks Cina dari Kitab Hou Han yang menuliskan kehidupan masyarakat Korea pada masa lampau.
Olahraga ssireum semakin menyebar dengan pesat pada masa Dinasti Joseon (1394-1910). Pada saat itu, kompetisi-kompetisi ssireum diadakan secara meriah pada hari-hari raya dan festival-festival besar di musim panas dan musim gugur. Para pemenang biasanya mendapat hadiah seperti sapi atau hasil-hasil pertanian.


5. Yut



Yut adalah Permainan keluarga yang sering dimainkan saat festival. Yut-nori telah populer di Korea selama ribuan tahun. Anak-anak di  Korea memainkan permainan tradisional  ini antara Tahun Baru Imlek dan bulan purnama pertama, tapi Anda bisa memainkan yut-nori setiap saat Anda suka. Klik link ini untuk Cara Memainkan Yut

6. Tuho



Tuho adalah permainan tradisional dari Korea yang dimainkan dengan cara melemparkan anak panah atau tongkat yang panjang ke dalam sebuah tempayan atau lobang dari jarak yang jauh.
Permainan tuho pada zaman dahulu populer di istana, dimainkan oleh orang-orang tua, anak-anak dari lingkungan bangsawan ataupun rakyat jelata. Pada saat ini, permainan tuho masih dimainkan oleh warga Korea, khususnya pada hari-hari libur tradisional bersama-sama dengan berbagai permainan tradisional yang lain.
Asal mula permainan tuho di Korea tidak diketahui dengan jelas, namun diperkirakan diperkenalkan dari Dinasti Tang (Cina) pada zaman Tiga Kerajaan Korea (57 SM-935 M).
Permainan ini dapat melibatkan banyak peserta atau 2 orang saja. Umumnya benda yang digunakan adalah anak panah yang matanya dicat dengan warna merah atau biru. Anak panah dapat bervariasi dalam ukuran panjang dan bentuk. Pemain diberi sejumlah anak panah. Jarak melempar panjangnya 2 ½ ukuran anak panah. Siapa yang dapat melempar tepat sasaran dengan jumlah yang paling banyak ke dalam lobanglah yang menjadi pemenang dan berhak mendapatkan hadiah.

7. Ddakji



Ddakji (dibaca takji, Hangeul :딱지) adalah sebuah permainan tradisional anak – anak dari korea dengan menggunakan kertas yang dilipat sedemikian rupa menjadi sebuah kartu / lempengan.
Permainan ini dapat dimainkan oleh 2 orang atau lebih, dengan cara masing – masing orang memiliki ddakji-nya sendiri – sendiri.
Cara memenangkan permainan ddakji ini adalah dengan membanting ddakji punya kita ke arah ddakjinya lawan agar ddakji punya lawan kita terbalik dari sisi A menjadi sisi B atau sisi B menjadi A. Bila terbalik satu putaran penuh (dari sisi A kembali ke sisi A) atau ddakji lawan tidak terbalik maka giliran lawan yang berhak untuk mlemparkan ddakjinya dan beroleh kesempatan memenangkan permainan.
Untuk menentukan giliran biasanya akan dimulai dengan suit terlebih dahulu atau dengan hom pim pa.
Ingin bermain permainan tradisional ddakji bersama teman ataupun keluarga anda? Sangat mudah sekali membuatnya. Mari kita melipat ddakji kita sendiri, klik link ini Cara Melipat Ddakji.
8. Geunetagi



Geunetagi adalah permainan dengan ayunan, selama festival Dano pada 5 Mei menurut kalender lunar. Sebelum hari festival Dano, penduduk desa memasang ayunan pada cabang tinggi dari pohon besar, seperti zelkova atau Jujube, yang terletak dekat pintu masuk ke desa. Tali ayunan selalu sekitar 9 sampai 10 meter panjang. Pada Geunetagi, wanita yang mencapai ketinggian tertinggi oleh goyang ayunan bolak-balik menjadi pemenang permainan ini.

9. Gongginori

Gonggi (공기, diucapkan gong-gee) adalah permainan populer anak-anak Korea yang secara tradisional dimainkan menggunakan 5 atau lebih kecil anggur berukuran kerikil. Saat ini, anak-anak membeli batu plastik berwarna-warni bukan mencari kerikil. Hal ini dapat dimainkan sendiri atau dengan teman. Batu-batu yang disebut gonggitdol (공깃돌), yang berarti "batu gonggi". Karena hanya beberapa batu dan permukaan datar yang dibutuhkan untuk bermain, permainan bisa dimainkan oleh siapa saja hampir di mana saja. Cara memainkannya hampir sama dengan bola bekel, hanya saja 

10. Jegichagi





Jegichagi adalah permainan luar ruangan tradisional Korea. Hal ini membutuhkan penggunaan kaki orang dan Jegi (obyek yang digunakan untuk bermain jegichagi). Jegi tampak seperti shuttlecock bulutangkis, yang terbuat dari koin kecil (ukuran seperempat), kertas, atau kain. Di Korea,anak-anak biasanya bermain sendiri atau dengan teman-teman di musim dingin, terutama pada Tahun Baru Imlek. Singkat menjelaskan aturan,pemain menendang ke atas jegi di udara dan terus menendang untuk mencegah jatuh ke tanah. Dalam permainan satu-ke-satu, pemain dengan paling banyak tendangan berturut-turut menang. Dalam pertandingan grup, para pemain berdiri membentuk lingkaran, dan bergiliran menendang Jegi tersebut. Pemain yang gagal menendang Jegi adalah setelah menerima dan membiarkannya jatuh ke tanah. Sebagai penalti, yang kalah pada lemparan jegi adalah pemenang sehingga ia dapat menendang sesuai keinginannya. Ketika yang kalah menangkap kembali jegi dengan tangan atau ujung penalti maka ia dapat bergabung kembali ke permainan.  Permainan ini telah berkembang, dan orang-orang menggabungkan dua atau tiga bahan dan membuat cara baru bermain jegichagi. Meskipun Jegichagi digunakan untuk menjadi sebuah permainan yang dimainkan sebagian besar di musim dingin, namun permainan ini telah menjadi permainan sepanjang tahun.

11. Chajeon Nori





Chajeon Nori, kadang-kadang diterjemahkan sebagai Pertempuran Juggernaut, adalah permainan tradisional Korea biasanya dimainkan oleh pria, yang berasal di wilayah Andong. Ini mungkin berasal sebagai peringatan kemenangan Wang Geon atas Gyeon Hwon pada Pertempuran Gochang di 935, dekat akhir periode zaman Tiga Kerajaan. Ini menyerupai pertandingan jousting, dengan dua komandan yang di atas frame log besar bermanuver oleh tim mereka. Log frame trapesium dikenal sebagai dongchae, dan terdiri dari dua 10-meter panjang log diikat dengan tali jerami. Dongchae terletak horizontal di awal bermain, tetapi kemudian diangkat oleh tim mereka. Beberapa anggota tim membawa dongchae, sementara yang lain berjuang dengan tim lawan untuk membantu kemajuan sisi mereka.
Para komandan dipilih dari antara tim di awal bermain. Tim secara tradisional bernama "timur" dan "barat." Sebuah tim menang dengan memaksa dongchae tim lain ke tanah. Setelah kemenangan mereka, para anggota tim pemenang tradisional melemparkan sandal jerami mereka ke atas.

12. Ssangnyuk/Backgammon



Backgammon adalah sebuah permainan papan untuk dua pemain. Setiap pemain memiliki limabelas biji yang digerakkan di atas papan yang terdiri dari duapuluh empat segitiga menurut lemparan dua dadu. Tujuan permainan adalah menjadi pemain pertama yang menempatkan semua bijinya di luar papan permainan.




Tolong budayakan komen,yaa... ^^  















Comments:

Poskan Komentar

Tulis komentar yang baik dan sopan,yaa...!!

Free Blog Template by June Lily